Jumat, 31 Agustus 2012

ENTREPRENEUR MAHASISWA


UKM ENTREPRENEUR MAHASISWA
Minat jadi pengusaha? Khususnya entreprenur? Tapi bingung mulai darimana dan gimana menyalurkan bakat berwirausaha dari diri kamu? Kamu bisa bergabung bersama UKM Entrepreneur Mahasiswa atau biasa disebut UKM EM. UKM ini memang masih sangat belia karena baru terbentuk pada tanggal 07 mei 2012 lalu. UKM ini tercetus dari mahasiswa Unja (Ali Al Ayubi, dkk) yang peduli akan banyaknya angka pengangguran serta kurangnya animo mahasiswa Unja untuk berwirausaha. Selain itu, menurut Ali selaku ketua UKM EM selain itu hal yang mendasari UKM EM berdiri adalah ingin menjadi sebuah wadah yang mampu memberikan manfaat kepada mahasiswa yang berwirausaha maupun mengembangkan usahanya yang telah ada, tempat share sesama mahasiswa dalam berwirausaha.
Visi dari UKM ini adalah Menghasilkan 100 Entreprenuer Muda yang mandiri dan dapat menciptakan peluang kerja. Sedangkan Misinya adalah mengembangkan  kemampuan Berwirausaha dengan  baik, meningkatkan kecintaan mahasiswa Universitas Jambi dalam berwirausaha serta mewujudkan  prestasi skala  nasional  maupun  regional dalam menghasilkan Enterpreuner muda.
Karena UKM ini masih baru Adapun untuk kegiatan UKM EM sendiri masih sebatas kumpul bareng teman PMW untuk memajukan usahanya, dan dalam waktu dekat insyaallah kita akan adakan seminar dan pelatihan wirausaha dalam membuat proposal bisnis yang akan didanai.
UKM EM ini masih sangat muda dan baru, namun para pengurus UKM EM akan membuat perubahan yang lebih baik dalam menghasilkan prestasi dalam bidang Entrepreuner. Bagi yang berminat untuk bergabung dan share usahanya  dapat menghubungi  082373571735 ( Ali akbar al ayubi) / 087896608981(Panca Putra Subroto) dan bisa juga bergabung di Grup  FB UKM Entrepreuner Mahasiswa.
pejuag pengusaha, pengusaha pejuang -Salam 3 jari –
enny lutfiyani





cinema



UKM CINEMATOGRAFI UNJA
“Cinema, Go Action!!!” itu lah slogan sekaligus trademark dari UKM Cinema. UKM yang berdiri sejak 18 juni 2008 ini memang menyediakan wadah khusus untuk kamu-kamu yang punya bakat dan minat di bidang cinematografi. Di UKM Cinema ada banyak macam divisi yang bisa kamu pilih. Ada divisi fotografi, videografi, talent, public speaking, announcer, editing foto dan video, design grafis dan kewirausahaan. Di UKM cinema akan banyak hal yang diajarkan khususnya dalam dunia entertaint. Mengapa ada divisi kewirausahaan? Firman (hukum’09) ketua UKM CINEMATOGRAFI mengatakan, bahwa hobi yang bergelut di bidang sinematografi bisa menghasilkan. Untuk itu, ada divisi kewirausahaan yang membantu menyalurkan bakat kamu untuk dijadikan sebagai penghasilan juga.
UKM yang sudah berjalan selama empat tahun ini sudah banyak mengadakan dan mengikuti berbagai macam acara dan perlombaan. Beberapa acara rutin tahunan adalah, mengadakan perayaan ulang tahun UKM CINEMA dengan membuat berbagai macam lomba. Seperti pada ulang tahun yang keempat kemarin, Cinema menggelar acara sekaligus lomba “street hunting photography” dan lomba “foto model unique face” serta menggelar bazar.  UKM ini juga selalu mengadakan hunting foto yang terkonsep, seperti pada bulan ramadahan kemarin cinema mengadakan hunting foto “Ramadahan Ceria” yang tidak hanya melibatkan divisi fotografi dan talent, tapi juga semua anggota UKM Cinema.
Selain kegiatan-kegiatan rutin tersebut, cinema sudah banyak mengukir prestasi. Pada tahun 2012 ini, tiga besar juara fotografi PEKSIMIDA Jambi semuanya diraih oleh anggota UKM Cinema. Yang paling baru, UKM Cinema menjadi finalis dalam lomba video pariwisata dari departemen kebudayaan Indonesia dengan judul “Rumah Panggung Sebrang”. UKM cinema juga mempunyai radio online dimana ini adalah radio online pertama di Jambi yang bisa diakses di www.cc-production.com.
Nah, dimana lagi kamu bisa menyalurkan bakat minat kamu dibidang cinematography dan entertaint kalau bukan di UKM Cinematografi Unja? Oh ya, kamu nggak harus punya kamera untuk bergabung di UKM ini, cukup punya bakat dasar, serta minat yang tinggi. Untuk info lebih lengkap kamu bisa hubungin Firman (085268831262) atau twitter @cc_production dan facebook “Cinematografi Unja”.
Enny Luthfiyani

Kamis, 30 Agustus 2012

KSR PMI



JAMBI,TROTOAR -  KSR PMI Korps sukarela palang merah indonesia unit universitas jambi adalah unit kegiatan mahasiswa yang ada dilingkungan universitas yang bergerak dibidang kemanusiaan, selain sebagai UKM di universitas, KSR PMI juga merupakan unit Ksr yang ada di bawah naungan palang merah indonesia cabang kota jambi. korps sukarela palang merah indonesia unit universitas jambi didirikan pada tanggal 3 november 2000 di universitas jambi.
              Elisa rahmanayano (Pertanian 2010) selaku kepala bidang sumber daya manusia dalam system organisasi KSR PMI  menyebutkan, dalam system perekrutan calon anggota KRS PMI, calon harus mengikuti serangkaian pelatihan, mulai dari pelatihan dasar di dalam ruangan. Yaitu berupa pemberian materi-materi tentang palang merah dan apa saja kegiatan yang dilakukan dalam KSR  PMI tersebut,lama pelatihan yang di berikan kepada anggotanya hingga dua bulan. selajutnya, akan di lakukan pelatiahan luar ruang guna mempraktekan hasil dari pelatihan dalam ruang.
            Kontribusi KSR PMI sebagai relawan dalam kegiatan social memberiakan andil yang besar. Selama 12 tahun berdiri, KSR PMI unit universitas jambi telah banyak berkiprah dalam bidang kemanusiaan secara lokal maupun nasional, seperti banjir jambi tahun 2003 , gempa dan tsunami NAD dan sumut tahun 2004/2005, gempa jogja tahun 2007. pada tsunami NAD dan sumut KSR PMI unit unja melakukan pengiriman sumbangan dan relawan.
            Harapan KSR PMI kedepan agar dari pihak universitas bisa mengarahkan mahasiswanya mengikuti organisasi-organisasi yang bersifat social sehingga membangun karakter mahasiswa yang lebih maju.
            (Juca Aiyolanda)

Ketika Mahasiswa Takut menjadi Sarjana


Ketika Mahasiswa Takut menjadi Sarjana

            Sumber PantonaNews.com menyebutkan Jumlah perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 3070, meliputi perguruan tinggi negeri (PTN) 83 (2,7%) dan perguruan tinggi swasta (PTS) 2.987 (97,3%). Setiap tahun semua perguruan tinggi menghasilkan ratusan ribu lulusan. Persoalannya hanya sebagian kecil yang berhasil diterima bekerja di sektor pemerintahan atau swasta, sebagian lainnya berhasil menciptakan usaha mandiri, dan sebagian lagi menjadi pengangguran profesional. Pengangguran yang berbekal ijazah pendidikan tinggi dengan tingkat intelektual yang rata-rata di atas lumayan.
Dalam kurun waktu 2009-2010, jumlah lulusan PTN dan PTS yang masih menganggur bisa mencapai 600 ribu. Jumlah tersebut mengalami kenaikan setiap tahun, karena rata-rata 30 persen dari 200 ribu mahasiswa yang diwisuda setiap tahun, tidak terserap di dunia kerja.
Angka yang tidak main-main bagi seorang yang dianggap memiliki kemampuan dibidang akademik dan berwawasan intelektual. Sarjana, dipandang sebagai seorang berilmu dan memiliki masa depan cerah. Pandangan masyarakat terhadap “sarjana” memang berlebihan. Mereka dianggap sebagai orang terdidik yang serba bisa dalam segala hal. Namun, pada kenyataannya jumlah “penganggur profesional” ini semakin bertambah per tahunnya. Seiring dengan fenomena ini, pihak Perguruan Tinggi semakin membuka lebar kesempatan untuk menjadi mahasiswa, bahkan lewat jalur masuk yang bervariasi nama, uang dan prosurnya.
Menurut penelitian Vocation Education Development Center di Malang Jawa Timur menjelaskan bahwa lulusan perguruan tinggi kebanyakan tidak memiliki keterampilan khusus. Selain itu, mereka hanya mengetahui dan menguasai bidang/ilmu tertentu. Akibatnya, mereka menjadi penganggur terpelajar, begitu lulus mereka hanya mencari kerja dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja. “sekarang yang ingin aku jalani ialah mencari kerja (apa saja asal halal.red) lalu akan membuat usaha kost-kost’an” ungkap seseorang sarjanawati beberapa waktu lalu. Lulusan tahun 2010 ini bisa mewakili beberapa sarjana yang masih menganggur. Lalu kenapa baru terfikir ketika sudah menjadi sarjana? Kenapa rencana masa depan baru akan dibuat setelah lulus? Apakah sikap hedonis dan apatis lebih banyak dilakukan semasa menjadi mahasiswa?
Pada kenyataannya IPK 4 juga tidak menjamin seorang sarjana mampu ber-fighter dalam dunia kerja. Memang lulusan perguruan tinggi tidak dirancang untuk siap kerja, tapi lebih tepat dikatakan siap kerja. Maka sedikit menggelikan bila lulusan Sarjana miskin keterampilan. Bahkan yang sudah bekerja juga banyak yang tidak sesuai bidang nya atau yang tertulis dalam ijazah sarjana yang dimilikinya. Senangkah bila seorang sarjana bekerja dengan pimpinan tamatan dibawah kita, yang tidak bertitel sederajat atau bahkan lulusan Sekolah menengah? . Maka hendaklah Mahasiswa tidak berfikiran dengan sebuah titel (sarjana.red) hidupnya akan makmur loh jinawi . Tapi terus berinisiatif dalam peta hidupnya masing-masing, menjadi apa nantinya? Bagaimana masa depannya? Harus menjadi perenungan jauh ketika masih menjadi seorang mahasiswa.
JuliMaria