Kamis, 30 Agustus 2012

Ketika Mahasiswa Takut menjadi Sarjana


Ketika Mahasiswa Takut menjadi Sarjana

            Sumber PantonaNews.com menyebutkan Jumlah perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 3070, meliputi perguruan tinggi negeri (PTN) 83 (2,7%) dan perguruan tinggi swasta (PTS) 2.987 (97,3%). Setiap tahun semua perguruan tinggi menghasilkan ratusan ribu lulusan. Persoalannya hanya sebagian kecil yang berhasil diterima bekerja di sektor pemerintahan atau swasta, sebagian lainnya berhasil menciptakan usaha mandiri, dan sebagian lagi menjadi pengangguran profesional. Pengangguran yang berbekal ijazah pendidikan tinggi dengan tingkat intelektual yang rata-rata di atas lumayan.
Dalam kurun waktu 2009-2010, jumlah lulusan PTN dan PTS yang masih menganggur bisa mencapai 600 ribu. Jumlah tersebut mengalami kenaikan setiap tahun, karena rata-rata 30 persen dari 200 ribu mahasiswa yang diwisuda setiap tahun, tidak terserap di dunia kerja.
Angka yang tidak main-main bagi seorang yang dianggap memiliki kemampuan dibidang akademik dan berwawasan intelektual. Sarjana, dipandang sebagai seorang berilmu dan memiliki masa depan cerah. Pandangan masyarakat terhadap “sarjana” memang berlebihan. Mereka dianggap sebagai orang terdidik yang serba bisa dalam segala hal. Namun, pada kenyataannya jumlah “penganggur profesional” ini semakin bertambah per tahunnya. Seiring dengan fenomena ini, pihak Perguruan Tinggi semakin membuka lebar kesempatan untuk menjadi mahasiswa, bahkan lewat jalur masuk yang bervariasi nama, uang dan prosurnya.
Menurut penelitian Vocation Education Development Center di Malang Jawa Timur menjelaskan bahwa lulusan perguruan tinggi kebanyakan tidak memiliki keterampilan khusus. Selain itu, mereka hanya mengetahui dan menguasai bidang/ilmu tertentu. Akibatnya, mereka menjadi penganggur terpelajar, begitu lulus mereka hanya mencari kerja dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja. “sekarang yang ingin aku jalani ialah mencari kerja (apa saja asal halal.red) lalu akan membuat usaha kost-kost’an” ungkap seseorang sarjanawati beberapa waktu lalu. Lulusan tahun 2010 ini bisa mewakili beberapa sarjana yang masih menganggur. Lalu kenapa baru terfikir ketika sudah menjadi sarjana? Kenapa rencana masa depan baru akan dibuat setelah lulus? Apakah sikap hedonis dan apatis lebih banyak dilakukan semasa menjadi mahasiswa?
Pada kenyataannya IPK 4 juga tidak menjamin seorang sarjana mampu ber-fighter dalam dunia kerja. Memang lulusan perguruan tinggi tidak dirancang untuk siap kerja, tapi lebih tepat dikatakan siap kerja. Maka sedikit menggelikan bila lulusan Sarjana miskin keterampilan. Bahkan yang sudah bekerja juga banyak yang tidak sesuai bidang nya atau yang tertulis dalam ijazah sarjana yang dimilikinya. Senangkah bila seorang sarjana bekerja dengan pimpinan tamatan dibawah kita, yang tidak bertitel sederajat atau bahkan lulusan Sekolah menengah? . Maka hendaklah Mahasiswa tidak berfikiran dengan sebuah titel (sarjana.red) hidupnya akan makmur loh jinawi . Tapi terus berinisiatif dalam peta hidupnya masing-masing, menjadi apa nantinya? Bagaimana masa depannya? Harus menjadi perenungan jauh ketika masih menjadi seorang mahasiswa.
JuliMaria



Selasa, 12 Juni 2012

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup-Lembaga Penelitian Universitas Jambi dan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi mengadakan:

1. Lomba Karya Tulis

Tema:
(1) Green City (Solusi cerdas untuk menjadikan Kota Jambi yang bersih, rapi, indah, dan menyenangkan)
(2) Green Campus (Solusi cerdas untuk menjadikan kampus yang bersih, rapi, indah, dan menyenangkan)

Syarat dan Ketentuan Peserta:
1. Peserta lomba dibagi dalam dua kategori yaitu kelompok mahasiswa dan umum
2. LKT ini bersifat perseorangan (bukan kelompok)
3. Karya Tulis yang dilombakan belum pernah menjadi finalis atau memenangkan kompetisi karya tulis sebelumnya di yang lain.
4. Naskah yang terpilih menjadi finalis menjadi hak milik Panitia Lomba

Tahapan Pelaksanaan Lomba
1. Penerimaan naskah: 1 Juni – 17 Juni 2012
2. Penjurian tahap : 23-28 Juni 2012
3. Pengumuman Pemenang : 30 Juni 2012

Hadiah dan Penghargaan:
Hadiah bagi pemenang kategori umum:
a. Juara I : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 2.500.000,-
b. Juara II : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 2.000.000,-
c. Juara III : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 1.500.000,-

Hadiah bagi pemenang kategori mahasiswa:

a. Juara I : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 2.000.000,-
b. Juara II : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 1.500.000,-
c. Juara III : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 1.000.000,-

Mekanisme Lomba:
1. Penerimaan naskah karya tulis dibuka mulai 1 Juni 2012 hingga 30 Juni 2012.
2. Peserta tidak dikenakan biaya (gratis)
3. Peserta mengirimkan naskah karya tulis dalam bentuk hardcopy rangkap 3 (tiga)
4. Naskah dikirimkan ke Panitia Lomba Karya Tulis Lingkungan Hidup Tahun 2012 paling lambat tanggal 30 Juni 2012.

PPLH – Lembaga Penelitian Universitas Jambi, Kampus Pinang Masak Mendalo Indah– Kabupaten Muaro Jambi – Provinsi Jambi 36361
Informasi selengkapnya mengenai LKT ini dapat menghubungi Yuda (0852-667-999-13) dan Wasril (0852-660-450-70).


(source: UKM Exist)

2. Festival Film Lingkungan

Tema: 
Lingkungan

Syarat dan Ketentuan Peserta:
1. Peserta lomba dibagi dalam dua kategori yaitu kelompok mahasiswa dan umum
2. Lomba ini terbuka untuk seluruh mahasiswa/mahasiswi S1/D3 yang masih aktif di seluruh Perguruan Tinggi yang ada di Provinsi Jambi
3. Peserta festival berkelompok minimal 2 orang
4. Film yang dilombakan belum pernah menjadi finalis atau memenangkan festival film sebelumnya di tempat lain

Tahap Pelaksanaan:
1. Pendaftaran : 28 s.d. 15 Juni 2012
2. Pengumuman : 16 Juni 2012

Hadiah dan Penghargaan:
Hadiah bagi pemenang kategori umum:
a. Juara I : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 2.500.000,-
b. Juara II : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 2.000.000,-
c. Juara III : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 1.500.000,-

Hadiah bagi pemenang kategori mahasiswa:

a. Juara I : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 2.000.000,-
b. Juara II : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 1.500.000,-
c. Juara III : Trophy + Piagam Penghargaan + Rp 1.000.000,-

Mekanisme Lomba:
1. Pendaftaran dibuka mulai 28 Mei 2012 s.d. 15 Juni 2012
2. Peserta tidak dikenakan biaya (gratis)
3. Peserta mendaftarkan filmnya dalam bentuk CD
4. Film didaftarkan ke Panitia Festival Film Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2012. PPLH-Lembaga Penelitian Universitas Jambi, Kampus Pinang Masak Mendalo Indah, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi 36361, paling lambat tanggal 15 Juni 2012
5. Informasi selengkapnya mengenai Festival Film ini dapat menghubungi Jalius (0812-749-024-87) dan Yuda (0852-667-999-13)

Ketentuan Festival Film:
a. Peserta membuat film dengan tema "Lingkungan"
b. Durasi film maksimal 10 menit

3. Sepeda Santai

Peserta: 
1. Kegiatan Sepeda Santai ini terbuka untuk umum
2. Peserta diharapkan membawa sepeda sendiri

Pelaksanaan:
1. Pendaftaran : 28 s.d. 15 Juni 2012
2. Kegiatan sepeda santai: Sabtu 16 Juni 2012
3. Kegiatan dimulai pukul 06.30 WIB
4. Tempat: Kampus Pinang Masak Universitas Jambi (UNJA Mendalo)

Doorprize: Sepeda dan berbagai macam hadiah hiburan lainnya.

4. Penanaman 6000 Bibit Pohon

Akan dilaksanakan di Universitas Jambi, Mendalo dan daerah sekitarnya serta sekolah-sekolah pada tanggal 16 Juni 2012. 





Senin, 05 Maret 2012

Cangok Duren, Orang Jambi lah tu


Jalan Jendral Soedirman ramai sore itu, saat kami tiba. Tampak polisi berseragam mengamankan lalu lintas, sehubungan dengan pagelaran Hari Pers nasional yang akan digelar di Jambi. Selain polisi, yang mencolok di sepanjang trotoar adalah penjual buah berkulit tajam, durian, masyarakat Jambi menyebutnya duren. Sepanjang trotoar ini, kami tak hanya mendapati satu atau dua, tapi lebih dari lima pedagang yang menjajakan dagangannya. mereka sibuk menata duren dengan tumpukan yang ditata sedemikian rupa agar lebih enak dilihat. Itulah tujuan kami datang kesini: menikmati duren jongkok. Makan duren sambil jongkok di pinggir jalan.

Bang Adi, penjual duren yang kami temui sedang sibuk membersihkan kulit durian dengan kumpulan lidi pendek yang diikat jadi satu dan difungsikan selayaknya kuas untuk membersihkan kulit buah durian dari rumput-rumput sisa panen. Bang Adi telah menggelar jualannya sejak sore baru menjelang. Duren adalah buah paling popular di Jambi, tak heran tiap musim durian tiba pedagang macam Bang Adi ramai berjualan di spot-spot strategis seperti simpang sukarejo ini. Ketika kami hampiri, Bang Adi segera mengeluarkan koleksi durian super yang disebutnya berasal dari Bungo itu. Yap! Kawasan simpang Sukarejo selalu jadi pusat penjualan duren setiap musim duren tiba. “Kali ini durennyo dak putus-putus dek, sudah satu setengah tahun ini abang jualan duren di sini. Dan masih rame jugo… Orang Jambi emang paling cangok kalo makan duren” demikian jawaban Bang Adi ketika ditanya mengenai komoditas dagangannya.

Selain didatangkan dari kabupaten Bungo, duren–durennya juga didistribusikan dari Padang. Menrutnya tidak ada perbedaan yang begitu mencolok antara duren Jambi dengan duren dari luar Jambi. “Mau duren Jambi, Bungo, Kumpe, Padang, ato Medan sekalian harganyo samo bae kalo di sini. Yang membedakan tu Cuma ukuran samo kualitas.” Jelasnya. Adi juga mengumpamakan duren seperti pesawat “Ado yang kelas eksekutif, seperti yang sayo jual ini kan, ado yang bisnis, ado yang ekonomi. Tergantung konsumen mau yang kayak mano. Harganyo sudah pasti beda, pengaruh dari kualitasnyo tadi” ujarnya pria asli Palembang ini.

Di tengah perbincangan, datang sekelompok pembeli yang memilah-milah duren Bang Adi. Mereka segera terlibat tawar-menawar harga yang tidak begitu sengit, rata-rata harga duren di kawasan ini memang tidak jauh berbeda satu sama lainnya. Lantaran sudah menyetujui harga, serombongan pembeli yang tampaknya bukan orang Jambi asli itu segera menyantap duren di lapak itu. Kami menanyai salah satu pembeli yang terlihat begitu menikmati duren tersebut bagaimana rasa duren yang sedang dimakannya, dengan senyum lebar pembeli tersebut berkata “Nyaman!” sambil mengacungkan durennya. Selidik punya selidik ternyata si pembeli adalah wisatawan dari Kalimantan Tengah.

Setelah meladeni serombongan pembeli itu, Bang Adi kembali ke pembicaraan bersama Trotoar. Beliau menjelaskan proses berjualan di kawasan Sukarejo yang ternyata tidaklah ribet sama sekali. “Pertama kali mau jualan yang penting punya modal. Modal Abang dulu Cuma 600 ribu, itulah yang diputar setiap hari. Cukup izin dengan yang punyo tempat, terus bayar duit lampu utnuk penerangan malam-malam. Terus ya pandai-pandai kito lagi lah meladeni pembeli. Di sini kan lokasinyo strategis, sudah terkenal jugo sebagai tempat tukang duren ngumpul. Jadi dak takut dak kebagian pemebeli. Namonyo rejeki dak kemano.” Ceritanya panjang lebar. Bang Adi juga mengutarakan bahwa pembeli berasal dari semua kalangan. Dari yang pejalan kaki seperti kami, hingga mereka yang bermobil mewah, semuanya beli duren di sini. Mungkin memang benar ucapan lelaki berperawakan sedang ini, orang Jambi memang cangok masalah duren

Untuk mendapatkan duren yang nikmat, pembeli bisa mengenalinya dari bau yang harum khas durian, durinya besar-besar dan ukurannya konsisten, bisa juga dengan mengenali suara gedebuk dari duren jika diketok-ketok menggunakan parang. Yang pasti jangan beli duren yang dijemur kena panas, apalagi yang sudah meletek. “Masuk angina durennyo agek” katanya. Dan yang penting adalah harus tahu seni makan duren. Duren paling enak dimakan beramai-ramai di ruangan terbuka, lebih terasa suasanya belah durennya.

Yang jadi masalah, kebanyakan makan duren terkadang membuat sebagian orang mabuk duren. Nah, Bang Adi memberi sedikit tips sederhana jika anda tidak ingin mabuk duren yaitu dengan meminum airputih langsung dari kulit duriannya, atau minum air garam. Untuk menghilangkan baunya ditangan, tinggal cuci saja tangan didalam kulit duren. Gampang toh?

Pria ramah yang kental benar logat malayanya ini menutup perbincangan di hari yang semakin sore itu dengan menjelaskan beberapa olahan duren yang bisa dibuat jika dagangannya tak habis dalam sehari. “Tinggal dibikin tempoyak, lempok, atau gulo duren. Jualan duren itu hamper dak ado ruginyo. Orang Jambi bukan Cuma suko makan duren segar kayak gini kan, tapi olahannyo pun dilahap.” Jelasnya sembari tersenyum lebar. Kami pun menutup sore yang teduh itu dengan senyum lebar, dan nafas penuh bau duren. Benar kata Bang Adi, orang Jambi memang cangok duren!

(Siti Sarah & Cholidah)

“Sayang kalau kita sendiri tidak tahu sejarah kita”




Museum Perjuangan, atau juga dikenal sebagai Museum kapal terbang Jambi siang itu terlihat lengang. Hanya ada beberapa orang berseragam PNS tengah bercengkrama di halaman depannya sambil menikmati hari yang terlihat mendung. Kami masuk ke musem dan disambut dengan ramah oleh bapak petugas museum hari itu. “Mau kunjungan ya dek? Ayo mari-mari silahkan masuk” sapanya ramah.

Setelah kami membayar tiket masuk dan mendapatkan brosur dari resepsionis, pencarian informasi tentang menara air yang kini dikenal sebagai menara PDAM yang terletak tepat di depan museum perjuangan pun dimulai. Asril, petugas musem, memandu kami. Setelah secara singkat menjelaskan mengenai beberapa benda yang ada di museum tersebut seperti replika pesawat yang ada di halaman museum yang begitu ikonik.

Replika tersebut adalah model dari pesawat yang kini karam di sungai Batang Hari dekat kawasan yang kita kenal kini sebagai Sijenjang. Setelah itu kami diperkenalkan dengan sosok pahlawan Jambi, Sultan Thaha yang adalah anak dari Orang Kayo Hitam yang gigih melawan Belanda untuk merebut kemerdekaan.

Setelah cerita sampai pada masa kemerdekaan, kami disuguhi cerita mengenai pengibaran bendera merah putih yang pertama kali di Jambi. Sayangnya informasi yang bisa digali dari museum pun ternyata masih kabur. Belum banyak penyelidikan mendalam mengenai peristiwa bersejarah ini.

“Masyarakat Jambi baru menerima berita kemerdekaan pada tanggal 19 Agustus 1949. Zaman dulu kan radio masih sangat ekslusif, jadi penyebaran berita pun sangat sulit” terangnya.

Cerita mengenai pengibaran benderanya sendiri bermula di kawasan benteng (kawasan yang kini kita kenal sebagai simpang museum perjuangan). Menara air (Water Toor) sendiri dipilih sebagai tempat pengibaran dikarenakan oleh posisinya yang berada tepat di samping bekas kerajaan Melayu Jambi atau disebut Tanah pilih (sekarang mesjid Al-Falah) dan diperkirakan adalah bangunan tertinggi di Jambi pada masa itu. Pada hari yang sama, diadakan juga upacara bendera untuk merayakan hari kemerdekaan. Sayangnya, tidak ada keterangan mengenai siapa yang pertama kali mengibarkan sang saka merah putih di bumi pesako betuah ini. Keberadaan benderanya sendiri pun masih dalam tanda Tanya besar.

Yang disayangkan adalah tidak adanya perawatan khusus pada menara yang kini menjadi bagian dari kantor pemerintahan itu. Bangunan bergaya art deco peninggalan Belanda itu kini menjadi tempat kosong yang tak lagi difungsikan seperti sedia kala. Dahulu menara itu menampung persediaan air bagi masyarakat Jambi. Kawasan benteng sendiri yang membentang dari korem dekat SMPN 1 Jambi hingga Danau sipin, dahulu adalah daerah elit pemerintahan dengan gedung-gedung pemerintahan yang kini entah apa kabarnya.

“Kita sendiri masih mensurvey mengenai sejarah kemerdekaan di Jambi, rasanya kan sayang kalau kita sendiri tidak tahu sejarah kita.” Ujar lelaki berpenampilan bersahaja ini.

Alhasil, data yang kami dapatkan hanya sepanjang cerita dan diorama-diorama mengenai pengibaran bendera semata.

Tak sampai di situ saja, kami juga mengunjungi menara air yang kini tak lagi menjadi bangunan tertinggi di Jambi itu. Satpam PDAM yang bertugas hari itu membenarkan bahwa menara tersebut adalah menara yang dahulu menjadi saksi kemerdekaan menyentuh Jambi ini. Malah, satpam yang bersangkutan mengatakan bahwa tempat yang sudah lama kosong dan tidak dimasuki orang itu angker dan berhantu. Trotoar juga tidak berhasil mendapatkan izin untuk masuk, karena dikhawatirkan gedung yang tidak pernah dibuka itu sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Sungguh mengecewakan jika pemerintah tidak memelihara cagar sejarah semacam ini. Bangunan asli peninggalan Belanda sudah sangat jarang dilihat di Jambi. Padahal gedung yang menyimpan banyak sejarah ini juga berada tepat di pinggir jalan.

“Semestinya kalo memang itu tempat pengibaran benderea pertama kali di Jambi harus ada lah paling tidak keterangannya. Pemerintah juga masak tidak menghargai sejarah, harusnya ada perawatan untuk gedung tua seperti itu.” Kata Pipit dan Melisa, dua mahasiswa yang kami tanyai tentang menara air tersebut.

Reporter : Cholidah, Siti Sarah, Juli Maria, Jelita Sartika Lestari T, Fitri Wahyuni, Zakia Era Zuana

Sabtu, 18 Juni 2011

Semarak PEMIRA UNJA 2011
















Memasuki gerbang Universitas Jambi, Anda akan menjumpai puluhan poster partai mahasiswa yang tertempel di pohon-pohon sepanjang jalan dalam kampus. Ada juga beberapa baliho besar yang dipasang di depan tiap-tiap fakultas, lapangan parkir dan kantin. Baliho-baliho dan poster-poster ini menandai pemira di Kampus Pinang Masak akan segera dimulai, tepatnya tanggal 20 Juni 2011 mendatang.
Berbeda dengan pemira tahun sebelumnya, pemira tahun ini lebih ramai. Ada empat pasang calon presiden mahasiswa dan empat pasang calon gubernur untuk masing-masing fakultas. Mereka diusung oleh sepuluh partai mahasiswa yaitu Partai Bintang Mahasiswa, Partai Keadilan Mahasiswa, Partai Kedaulatan Mahasiswa, Gerakan Intelektual Mahasiswa, Partai Demokrat Mahasiswa, Partai Mahasiswa Bersatu, Partai Kepedulian Mahasiswa, Partai Insan Kampus dan Partai Mahasiswa Ilmiah.

Sejak Senin, 13 Juni 2011, seluruh partai dengan pasangan calon presiden dan calon gubernur berkampanye. Diawali dengan kampanye melalui poster, datang ke kelas-kelas dan orasi di halaman fakultas.
Semoga PEMIRA UNJA 2011 berlangsung lancar dan damai.

Jumat, 20 Mei 2011

Dialog Dekanat


Reporter : Jelita Sartika Lestari Tambunan
Tanggal 2 Mei 2011 lalu, diadakan dialog dengan tema “Dekanat Menjawab” yang diadakan oleh BEM FKIP Universitas Jambi di halaman tengah gedung FKIP. Mahasiswa dari berbagai prodi menghadiri dialog ini. Pihak dekanat diwakili oleh Dekan, Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II dan Pembantu Dekan II. Dialog dimulai sekitar pukul 10 pagi, terlambat satu jam dari yang dijadwalkan. Berikut beberapa pertanyaan dari mahasiswa untuk pihak dekanat.
Tanya :Saat pembayaran SPP ada pembayaran uang pratikum eksata. Tapi kemanakah uang itu? sebab sampai sekarang saya tidak merasakan manfaat dari uang pratikum itu.
Jawab : Uang pratikum, SPP dan SKS wajib masuk ke kas Negara dan uang pratikum dipakai saat mahasiswa PKL ke Bali, Yogyakarta dan sebagainya.
Tanya : Selama pratikum di lab, mahasiswa dikenakan uang jaminan untuk apa sebenarnya uang jaminan itu?
Jawab : Uang jaminan digunakan untuk mengganti peralatan-peralatan lab yang kita rusak tetapi jika kita tidak merusak maka wajib diminta kembali uang tersebut (UP MIPA dibawah universitas)
Tanya : Saat mendaftar wisuda saya diminta untuk membayar sumbangan alumi dan sumbangan kelulusan oleh FKIP, apakah dasar dari sumbangan itu?
Jawab : Sumbangan alumi diminta oleh universitas sedangkan sumbangan kelulusan adalah sumbangan sukarela yang diberi kepada jurusan, prodi dab kemahasiswaan.
Tanya : Bagaimana dekan mengatasi sarana internet yang terbatas, kamar mandi yang tidak bersih, buku yang telah lama dan tidak lengkap di perpustakaan dan juga lahan parker yang sempit?
Jawab : Pembantu Dekan I akan pergi ke UNS untuk mengikuti pertemuan PD I se-universitas di Indonesia guna memperluas sarana internet. Untuk masalah kebersihan, seperti kita tahu petugas kebersihan hanya 2 orang, kerja mereka diperberat dengan rendahnya kesadaran mahasiswa untuk menjaga kebersihan. Kita telah membuat sumur bor untuk mengatasi krisis air namun ada masalah sehingga air belum dapat mengalir. Untuk lahan parkir akan dibuat gomblong.
Tanya : Mengapa hanya beasiswa BBM dan PPA saja yang sering dipublikasikan pada mahasiswa tapi tidak dengan beasiswa lain, misalnya Beasiswa Djarum?
Jawab : Beasiswa BBM dan PPA berasal dari universitas jadi lebih mudah memberikan pengumuman ke mahasiswa, sedangkan beasiswa lainnya (yang berasal dari perusahan-perusahaan) sering terjadi keterlambatan penyampaian surat beasiswa ke Dekanat, sehingga sering tidak ada waktu untuk memberikan pengumuman ke mahasiswa.
Inilah beberapa pertanyaan yang muncul saat dialog, saya melihat beberapa wajah yang kurang puas. Jawaban-jawabannya teoritis ala pejabat negri ini.

Jumat, 29 April 2011

.logo trotoar

EDISI APRIL MAJALAH KAMPUS TROTOAR

Cerdas Dalam Kreasi Terdepan Dalam Informasi